Senin, 22 Desember 2014

cara mendidik anak berpuasa



Cara mendidik anak berpuasa
Memang ada banyak cara mengajarkan anak berpuasa, tapi disini saya akan memberikan beberapa tips mengajarkan anak berpuasa. Yaitu :
-          Cobalah untuk menjelaskan makna dan hikmah puasa dan bulan ramadhan. Berikan anak pengetahuan tentang apa dan bagaimana itu berpuasa dan juga ibadah-ibadah lainnya di bulan ramadhan dengan menggunakan bahasa anak tentunya dan dengan menyenangkan.
-          Jelaskan pada anak tentang manfaat puasa bukan hanya dari segi agama tapi juga menurut kesehatan dengan bahasa yang mudah mereka fahami agar semakin tertarik.
-          Ajarkan anak tentang niat berpuasa.
-          Kenalkan anak akan hal-hal rutin dibulan ramadhan.
-          Lakukan puasa bertahap bagi anak.
-          Dorong dan beri motivasi anak berpuasa sesuai dengan usia mereka. Anda bisa menjanjikan hadiah bagi anak-anak jika berpuasa, bisa berupa tambahan uang saku ataupun jalan-jalan agar anak antusias dan semangat berpuasa.
-          Buatlah menu makanan sahur sesuai dengan favorit anak anda, agar anak mau makan sahur. Namun tetap tidak melupakan gizi.
-          Jangan memarahi anak jika belum bisa berpuasa.
-          Bagi anak yang masih berusia 5-6 tahun ajarkan anak untuk berpuasa hanya setengah hari saja, karena usia seperti itu belum bisa menahan lapar.
-          Ajaklah anak anda untuk sahur bersama dengan anggota keluarga yang lain. Dengan demikian anak bisa membiasakan diri untu beradaptasi dan memahami waktu sahur dan untuk mempersiapkan energinya agar anak kuat untuk berpuasa di siang hari.
Referensi:
http://www.tipsanakbayi.com/2013/06/17-cara-mengajarkan-anak-puasa.html

filosofi pohon singkong



FILOSOFI POHON SINGKONG
          Waktu saya pulang kuliah, saya melewati kebon ketika menuju ke kost’n. Saya melihat ada pohon singkong, bambu dan pohon pisang. Saya mengerti sekarang kenapa bapak memiliki filosofi pohon pisang, karena pohon pisang keliatannya lemah tetapi dia kuat. Yang saya tangkep dari omongan bapak, itu mungkin kita boleh lemah ekonominya tetapi kita harus memiliki otak yang kuat (cerdas). Dan ketika bapak cerita ada anak kelas b bilang dia menemukan filosofi pohon bambu. Saya juga mengerti apa maksud dia, mungkin dari pohon bambu itu dia mau bilang bambu yang bengkok aja pun masih bisa dipake dengan cara dipotong-potong jadi kecil-kecil sesuai lekukannya. Menurut saya filosofi itu menceritakan tentang manusia itu ada bermacam-macam kecerdasaan, dari yang level tinggi(bambu lurus), sedang(bambu sedikit bengkok), dan rendah (bambu bengkok). Mungkin dari filosofi bambu itu dia mengatakan bahwa bambu bengkok itu masih bisa digunakan kalau kita mempunyai ide-ide. Disini dia mau mengatakan jika ada seseorang yang memiliki kecerdasaan yang rendah tetapi kita mampu mengasah skill atau keterampilan yang ada didiri kita pasti kita juga akan memiliki nilai lebih dimasyarakat dan disekitar kita. Itu yang saya tangkap dari filosofi yang bapak ceritakan.
          Dan saya juga memiliki filosofi sendiri yaitu filosofi pohon singkong, yang saya tangkep dari pohon singkong itu, pohon singkong itu semuanya berguna tidak ada yang berguna dari akar/umbinya , batang, dan daunnya. Yang saya tangkap akar/umbi kan terletak pada bagian bawah tetapi menjadi tujuan utama dari pohon singkong baru batang untuk kayu bakar dan daun untuk sayur. M enurut saya akar/umbi  itu seseorang yang kekurangan dari kalangangan bawah tetapi dia tetap menjadi tujuan utama di kalangan masyararakat jika dia memiliki kecerdasaan atau skill yang baik. Sehingga itu yang membedakan antara dirinya dengan orang lain dan memiliki nilai positif dimata masyarakat.
          Jadi, seharusnya kita manusia tidak haruslah berbangga diri dengan apa yang kita dapat sekarang ini, kekayaan yang kita nikmatin selama ini adalah kekayaan milik orang tua kita. Seharusnya kita mengasah potensi kita untuk mendapatkan kekayaan seperti orang tua kita. Dan untuk kita yang dari kalangan bawah, kita juga ga boleh merasa minder ataupun malu. Seharusnya kita terus belajar dengan tekun dan berlatih dengan penuh untuk menggali semua potensi-potensi yang ada didiri kita. Jika kita sudah memiliki potensi itu, niscaya kita tidak akan dianggap remeh atau sebelah mata dengan siapapun.
Mungkin itu yang saya dapat sampaikan kurang lebihnya mohon maaf, terima kasih.

Rabu, 10 Desember 2014

ASAL USUL ETNIS DAN NAMA KARO



ASAL USUL ETNIS DAN NAMA KARO

            Berdasarkan mitos yang ada, asal usul suku di Sumatera Utara bervariasi. Ada yang mengsusut asal usul leluhurnya dari langit yang turun di puncak gunung Pusuh Buhit (Toba), ada yang berasal dari lapisan yang paling indah yamg disebut Tetoholi Ana’a yang turun di wilayah Gomo (Nias),ada yang berasal dari turunan raja Iskandar Zulkarniah yang turun di bukit Siguntang Palembang (Melayu).
            Berdasarkan perkiraan-perkiraan yang disusun para ahli, penduduk asli Sumatera Utara ini berasal dari hindia belakang yang datang ke kawasan ini secara bertahap. Hal inilah maka kemudian corak ragam budaya penduduk pribumi Sumatera Utara ditemukan perbedaan-perbedaan. Dalam masyarakat Karo pun, ada ditemukan mitos tentang asal usul etnis ini. Mitos ini tidak berkait erat dengan hal-hal yang sulit ditelusuri oleh akal seperti yang mengusut asal usul leluhurnya dari langit yang turun dipuncak Gunung Pusuh Buhit (Toba), atau yang mengusul asal usulnya dab berkesimpulan dari lapisan yang paling indah yang mereka sebut Tetoholi Ana’a yang turun di wilayah Gomo (Nias), atau yang mengkaitkannya dengan turunan raja Iskandar Zulkarnain yang turun di Bukit Siguntang Palembang (Melayu). Dalam masyarakat karo mitos tersebut berkaitan dengan totem 16. Misalnya haram mengkonsumsi daging binatang seperti kerbau putih, oleh sukblen sebayang, burung balam oleh sukblen  klen tarigan, anjing oleh sukblen brahmana.
            Dalam beberapa literatur tentang Karo, etimologi karo berasal dari kata Haru. Kata Haru ini berasal dari nama kerajaan Haru yang berdiri sekitar abad 14 sampai abad 15 di daerah sumatera bagian utara. Kemudian pengucapan kata Haru ini berubah menjadi Karo. Inilah diperkirakan awal terbentuknya nama karo. Menurut Sangti (1976 : 130) dan Sinar (1991 : 1617), sebelum klen Karo-karo, Ginting, Sembiring, Tarigan, dan Perangin-angin menjadi bagian dari masyarakat karo sekarang, telah ada penduduk asli karo pertama yakni klen karo sekali. Dengan kedatangan kelompok klen Karo-karo, Ginting, Sembiring, Tarigan, dan Perangin-angin, akhirnya membuat masyarakat karo semakin banyak. Klen Ginting misalnya adalah petualangan yang datang ke tanah karo melalui pegunungan Layo Lingga, Tongging dan akhirnya sampai di dataran tinggi karo. Klen Tarigan adalah petualangan yang datang dari Dolok Simalungun dan Dairi. Perangin-angin adalah 16 Totem yaitu kepercayaan akan adanya hubungan gaib antara sekelompok orang – sesekali dengan seseorang – dengan segolongan binatang atau tanaman atau benda mati sebab dipercayai antara benda-benda itu dengan dirinya ada suatu hubungan yang erat dan sangat khusus, petualangan yang datang dari Tanah Pinem Dairi. Sembiring diidentifikasikan berasal dari orang-orang Hindu Tamil yang terdesak oleh pedagang Arab di pantai Barus menuju dataran tinggi karo, karena mereka sama-sama menuju dataran tinggi karo, kondisi ini akhirnya, menurut Sangti mendorong terjadi pembentukan merga si lima. Pembentukan ini bukan berdasarkan asal keturunan garis bapak (secara genealogis patrilineal) seperti di batak toba, tetapi sesuai dengan proses peralihan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat karo tua kepada masyarakat karo baru yakni kurang pada tahun 1780. Pembentukan ini berkaitan dengan keamanan, sebagai salah satu jalan keluar untuk mengatasi pergolakan antara orang-orang yang datang dari kerajaan Aru dengan penduduk asli.
            Kini pembentukan klen ini melahirkan merga si lima (klen yang lima) yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat karo yang terdiri dari merga si lima yang berdomisili didataran tinggi, kemudian menyebar ke berbagai wilayah di sekitarnya, seperti ke Deli serdang, Dairi langkat, Simalungun dan Tanah Alas (Aceh Tenggara). Bahkan secara individu kini mulai menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, maupun ke luar wilayah negara Indonesia.
            Menurut Neumann (1972 : 8) wilayah karo adalah suatu wilayah yang luas, yang terlepas dari perbedaan-perbedaan antar suku, yang menganggap dirinya termasuk ke dalam Batak Karo, yang berbeda dengan batak toba, batak pak-pak, batak timur. Seluruh perpaduan suku-suku batak ksro diikat oleh suatu dialek yang dapat dimengerti dimana-mana dan hampir tidak ada perbedaannya antar yang satu dengan yang lain.
            Bangsa Batak Karo berada di Langkat, Deli Serdang, dan dataran tinggi karo sampai tanah alas (Propinsi Aceh =Aceh Tenggara). Sementara itu Parlindungan (1964 : 495) membagi wilayah karo menjadi dua bahagian yaitu wilayah karo gunung, wilayah ini terletak 1000 meter di atas permukaan laut yang mencakupdi sekitar Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak, dan wilayah karo dusun, 100 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini berada di luar dari wilayah karo gunung. Daerah ini boleh jadi mencakup Langkat, Deli serdang, Simalungun, Pak-pak Dairi samapai tanah alas.

Sumber :

PERAN FILSAFAT REALISME DALAM PENDIDIKAN

PERAN FILSAFAT REALISME DALAM PENDIDIKAN
Ref 1 PGSD 3/C - 18


1.      ONTOLOGIS

            Pada dasarnya realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitas. Realisme berbeda dengan materialisme dan idealisme yang bersifat monitis. Realisme berpendapat bahwa hakikat realitas adalah terdiri atas dunia fisik dan dunia rohani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yang subjek yang menyadari dan mengetahui disatu pihak dan dipihak lainnya adalah adanya realita diluar manusia yang dapat dijadikan sebagai objek pengetahuan manusia (Uyoh Sadulloh : 2007 : 103).
            Secara umum realisme berarti kepatuhan kepada fakta, kepada apa yang terjadi, jadi bukan kepada apa yang diharapkan atau kepada apa yang diinginkan. Akan tetapi dalam filsafat, kata realisme dipakai dalam arti yang lebih teknis. Aliran filsafat realisme berpendirian bahwa pengetahuan manusia itu adalah gambaran yang baik dan tepat dari kebenaran.
            Gagasan filsafat realisme terlacak dimulai sebelum periode abad masehi dimulai, yaitu dalam pemikiran murid Plato bernama Aristoteles (384-322 SM). Sebagai murid Plato, sedikit banyak Aristoteles tentu saja memiliki pemikiran yang sangat dipengaruhi Plato dalam berfilsafat. Dalam keterpengaruhannya, Aristoteles memiliki sesuatu perbedaan pemikiran yang membuatnya menjadi berbeda dengan Plato.
            Ibaratnya Plato mulai dari sebelah selatan Aristoteles justru dimulai dari sebelah utara. Filsafat  Aristoteles tampak seperti antitesis filsafat Plato yang justru memiliki corak idealisme. Oleh karena itu, jika Plato menyakini bahwa apa yang sungguh-sungguh ada adalah yang  ada dalam alam idea, bagi Aristoteles benda-benda itu sungguh pun tidak ada yang memikirkannya ia tetaplah ada. Keberadaannya tersebut tidak dtentukan oleh akal. Disini fokus perhatian Aristoteles terhadap kemungkinan sampai pada konsepsi-konsepsi tentang bentuk universal melalui kajian-kajian atas objek-objek material. Kelak, ini akan menjadi dasar-dasar pertama bagi lahirnya fisika modern serta sains, (Teguh Wangsa Gandhi :2010:140).
            Jadi bisa diambil kesimpulan realisme itu ada suatu aliran yang dilihat dari panca indera penglihatan, dan realisme adalah suatu aliran yang menyatakan sesuatu pendapat dilihat dari kenyataan atau fakta yang nyata.

2.      EPISTIMOLOGIS

            Dalam hubungannya dengan pendidikan, pendidikan harus universal, seragam, dimulai sejak pendidikan yang paling rendah, dan merupakan suatu kewajiban. Pada tingkat pendidikan yang paling rendah, anak akan menerima jenis pendidikan yang sama. Pembawaan dan sifat manusia sama pada semua orang. Oleh karena itulah, metode, isi, dan proses pendidikan harus seragam. Namun, manusia tetap berbeda dalam derajatnya. Dimana ia dapat mencapainya. Oleh karena itu, pada tingkatan pendidikan yang palig tinggi tidak boleh hanya ada satu jenis pendidikan, melainkan harus beraneka ragam jenis pendidikan. Inisiatif dalam pendidikan terletak pada pendidik bukan pada peserta didik. Materi atau bahan pelajaran yang baik adalah bahan pelajaran yang memberi kepuasan pada minat dan kebutuhan pada peserta didik. Namun, yang paling penting bagi pendidik adalah bagaimana memilih bahan pelajaran yang benar, bukan memberikan kepuasaan terhadap minat dan kebutuhan siswa hanyalah merupakan alat dalam mencapai tujuan pendidikan, atau merupakan strategi mengajar yang bermanfaat.

Epistimologi – Realisme : kenyataan hadir dengan sendiriya tidak tergantung pada pengetahuan dan gagasan manusia, dan kenyataan dapat diketahui oleh pikiran. Pengetahuan dapat diperoleh melalui penginderaan. Kebenaran pengetahuan dapat dibuktikan dengan memeriksa kesesuaiannya dengan fakta.


3.      AKSIOLOGI
            Dalam aliran ini menyatakan bahwa pendidikan seorang anak itu dimulai dari dunia fisik dan dunia rohani. Dari dunia fisik yaitu kita sebagai calon pendidik kita harus mencontohkan cara merawat fisik kita dengan benar agar selalu sehat dan bersih. Sedangkan dunia rohani yaitu kita harus menanamkan keagamaan/religius terhadap peserta didik , karna semua siswa itu lebih mengikuti contoh yang nyata.
            Dan dalam aliran ini pengaruh dalam dunia pendidikan adalah bahwa pendidikan itu fakta dan nyata. Artinya bahwa pendidikan itu bersifat fakta dan nyata ilmu yang diberikan guru atau sekolah terhadap anak didiknya. Karena anak memiliki sikap yang mengerti karna itu bersifat nyata bukan bersifat tidak nyata atau semu. Dan anak juga memiliki sikap yang kritis, dia akan menanyakan apakah yang diceritakan atau diinformasikan kepadanya itu benar-benar ada atau tidak nyata. Dan pendidikan juga harus bersifat universal atau seragam. Dimulai dari pendidikan kelas rendah, karena dikelas rendah ini lah anak akan diberikan bekal yang benar-benar menentukan prilaku dan tingkah laku anak kedepannya nanti. Jikalau pendidikan kelas rendah ini tidak memiliki keseragaman tidak terciptanyalah acuan dalam dunia pendidikan.
            Menurut realisme tujuan utama pendidikan yaitu mempersiapkan individu untuk dunia dan akhirat. Tujuan pendidikan adalah mendorong siswa memiliki keseimbangan intelektual yang baik, bukan semata- mata penyesuaian terhadap linkungan fisik dan sosial saja. William Mc Gucken ( Brubacher, 1950) seorang pengikut Aristoteles dan Thomas Aquina yang berakar pada metafisika dan epistimologi, membicarakan pula natural dan supernatural. Menurut Gucken, tanpa Tuhan tidak ada tujuan hidup, dan pada akhirnya tidak ada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan adalah mempersiapkan manusia untuk hidup didunia sekarang dlam arti untuk mencapai tujuan akhir yang abadi untuk hidup didunia sana.

·         REALITA PENDIDIKAN DI INDONESIA

            Pendidikan merupakan kunci utama bagi bangsa yang ingin maju dan unggul dalam persaingan global. Pendidikan adalah salah satu tugas negara yang paling penting dan sangat strategis. Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan prasyarat dasar bagi terbentuknya peradaban yang lebih baik dan sebaliknya, sumber manusia yang buruk akan menghasilkan peradaban yang buruk. Melihat realitas pendidikan di negeri ini masih banyak masalah dan jauh dari harapan. Bahkan jauh tertinggal dari negara-negara lain.
            Masalah pendidikan di Indonesia ibarat benang kusut. Banyak permasalahan yang terjadi dalam sitem pendidikannya tetapi pelaku yang ada didalamnya. Lihat saja, banyak pelanggaran yang terjadi seperti banyak pelajar melakukan tawuran, narkoba, free sex, bahkan oknum guru yang seharusnya menjadi panutan justru melakukan pelanggaran yaitu membiarkan kecurangan yang terjadi saat UN dengan alasan agar para siswanya lulus 100 %.  Sungguh, ini merupakan keadaan yang sangat ironis.          
            Karena adanya presepsi demikian pemerintahan Indonesia membuat kebijakan bahwa di Indonesia diwajibkan sekolah minimal 12 tahun. Dengan adanya kebijakan seperti itu pemerintah Indonesia setidaknya membantu rakyat menengah kebawah dalam hal pendidikan. Tapi kebijakan itu hanya terjadi nyata dikota dan di daerah besar saja. Didaerah perkampungan atau di pedesaan masih ada saja sekolah negeri yang bayar, masih adanya kekurangan tenaga pendidik dan minimnya sekolah-sekolah didaerah.. Mirisnya lagi yang bisa mengeyam pendidikan kebanyakan orang-orang golongan atas yang memiliki uang lebih dan sementara orang-orang dari golongan bawah hanya bisa diam dan tak tau harus berbuat apa. Lihatlah pada realitanya banyak calon-calon generasi  penerus bangsa tidak bersekolah dan alasannya terkait biaya pendidikan terlalu mahal. Akibat kondisi seperti ini, terjadinya pengangguran dimana-mana, kriminalitas menjadi hal yang utama menjadi pekerjaan mereka, kemiskinanpun menjadi lingkaran setan yang sulit diputuskan.
Sekitar 12 Juta dari 33 Provinsi menurut Komnas HAM Anak tak dapat melanjutkan sekolah yang itu mayoritas mereka adalah anak-anak yang kini mengemis, mengamen, dan bekerja dibawah umur. selain itu, banyak sekali SDM yang sangat cerdas dan kreatif namun mereka tak terhimpun oleh pemerintah karena para penguasa itu disibukkan oleh kepentingan politik luar negerinya dan merekrut para handalan dari luar negeri dari pada pemberdayaan SDM bangsa yang pada akhirnya mereka dibeli dan diberdayakan dinegara lain, salah satu contoh bapak kita B.J. Habibie. Selain pada semakin banyaknya yang putus sekolah atau mereka yang terbuang oleh bangsanya sendiri, kualitas dari pada pengajar yang saat ini semakin rendah, yang mereka para pengajar (GURU) yang seharusnya memberikan ilmu tanpa sebuah imbalan pada akhirnya mereka berlomba-lomba untuk menuntut hak-haknya saja dibandingkan menunaikan kewajiban dan niat sebagai pendidik, karena mereka direkrut oleh pemerintah sebagai PNS lebih kepada Kuantitasnya dalam penilaian kelayakkan untuk menjadi GURU/PNS, memang sih tidak semua GURU seperti itu, tapi saya mengatakan mayoritas GURU seperti itu. Beginilah realita bangsa Indonesia.
            Seharusnya pemerintahan Indonesia dan kita lebih bisa memperhatikan kondisi seperti ini, karena masih banyak anak diluar sana yang masih belum mengeyam pendidikan. Dan banyak juga diluar sana anak-anak bangsa yang memiliki kecerdasaan dan kreatifitas yang lebih tapi tidak diperhatikan. Sehingga anak tersebut memendam terus kecerdasaan dan kreatifitasannya tersebut, karena anak tersebut mengganggap bahwa tidak mungkin anak yang tidak sekolah tetapi memiliki kreatifitas dipandang di bangsa ini. Karena para petinggi dibangsa ini tidak memperhatikan anak-anak bangsa yang tidak sekolah, tapi lebih mementingkan jabatan dipemerintahan.

PERAN FILSAFAT REALISME DALAM PENDIDIKAN



PERAN FILSAFAT REALISME DALAM PENDIDIKAN

1.      ONTOLOGIS

            Pada dasarnya realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitas. Realisme berbeda dengan materialisme dan idealisme yang bersifat monitis. Realisme berpendapat bahwa hakikat realitas adalah terdiri atas dunia fisik dan dunia rohani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yang subjek yang menyadari dan mengetahui disatu pihak dan dipihak lainnya adalah adanya realita diluar manusia yang dapat dijadikan sebagai objek pengetahuan manusia (Uyoh Sadulloh : 2007 : 103).
            Secara umum realisme berarti kepatuhan kepada fakta, kepada apa yang terjadi, jadi bukan kepada apa yang diharapkan atau kepada apa yang diinginkan. Akan tetapi dalam filsafat, kata realisme dipakai dalam arti yang lebih teknis. Aliran filsafat realisme berpendirian bahwa pengetahuan manusia itu adalah gambaran yang baik dan tepat dari kebenaran.
            Gagasan filsafat realisme terlacak dimulai sebelum periode abad masehi dimulai, yaitu dalam pemikiran murid Plato bernama Aristoteles (384-322 SM). Sebagai murid Plato, sedikit banyak Aristoteles tentu saja memiliki pemikiran yang sangat dipengaruhi Plato dalam berfilsafat. Dalam keterpengaruhannya, Aristoteles memiliki sesuatu perbedaan pemikiran yang membuatnya menjadi berbeda dengan Plato.
            Ibaratnya Plato mulai dari sebelah selatan Aristoteles justru dimulai dari sebelah utara. Filsafat  Aristoteles tampak seperti antitesis filsafat Plato yang justru memiliki corak idealisme. Oleh karena itu, jika Plato menyakini bahwa apa yang sungguh-sungguh ada adalah yang  ada dalam alam idea, bagi Aristoteles benda-benda itu sungguh pun tidak ada yang memikirkannya ia tetaplah ada. Keberadaannya tersebut tidak dtentukan oleh akal. Disini fokus perhatian Aristoteles terhadap kemungkinan sampai pada konsepsi-konsepsi tentang bentuk universal melalui kajian-kajian atas objek-objek material. Kelak, ini akan menjadi dasar-dasar pertama bagi lahirnya fisika modern serta sains, (Teguh Wangsa Gandhi :2010:140).

Bentuk realisme
-          Realisme religius
            Realisme religius dalam pandangannya tampak dualistis. Ia berpendapat bahwa terdapat dua order yang terdiri atas “ order natural” dan “ order supernatural”. Kedua order tersebut berpusat pada Tuhan. Tuhan adalah pencipta smesta alam dan abadi. Pendidikan merupakan suatu proses untuk meningkatkan diri, guna mencapai yang abadi. Kemajuan diukur sesuai dengan yang abadi tersebut yang mengambil tempat dalam alam.  Menurut realisme religius, karena keteraturan dan keharmornisan alam semesta sebagai ciptaan Tuhan, maka manusia harus mempelajari alam sebagai ciptaan Tuhan. Tujuan utama pendidikan mempersiapkan individu untuk dunia dan akhirat. Tujuan pendidikan adalah mendorong siswa memiliki keseimbangan intelektual yang baik, bukan semata- mata penyesuaian

terhadap linkungan fisik dan sosial saja. William Mc Gucken ( Brubacher, 1950) seorang pengikut Aristoteles dan Thomas Aquina yang berakar pada metafisika dan epistimologi, membicarakan pula natural dan supernatural. Menurut Gucken, tanpa Tuhan tidak ada tujuan hidup, dan pada akhirnya tidak ada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan adalah mempersiapkan manusia untuk hidup didunia sekarang dlam arti untuk mencapai tujuan akhir yang abadi untuk hidup didunia sana.
            Pandangannya tentang moral, realisme religius menyetujui bahwa kita dapat memahami banyak hukum moral dengan menggunakan akal, namun secara tegas beranggapan bahwa hukum-hukum moral tersebut diciptakan oleh Tuhan. Tuhan telah memberkati manusia dengan kemampuan rasional yang sangat tinggi untuk memahami hukum moral tersebut. Tidak seperti halnya realisme natural yang hanya terbatas pada moral alamiah, realisme religius beranggapa bahwa manusia diciptakan memiliki kemampun untuk melampaui alam natural, yang pada akhirnya dapat mencapai nilai supernatural. Tujuan pendidikan adalah keselamatan atau kebahagian jasmani dan rohani sekaligus. Anak yang lahir pada dasarnya rohaninya dalam keadaan baik, penuh rahmat, diisi dengan nilai-nilai ketuhanan. Anak akan menerima kebaikan dan menjauhi kejahatan bukan hanya karena perintah akal, melainkan juga karena perintah Tuhan.
Johan Amos Comenius merupakan pemikir pendidikan yang dapat digolongkan pada realisme religius, mengemukakan bahwa semua manusia harus berusaha untuk.mencapai dua tujuan. Pertama, keselamatan dan kebahagiaan hidup yang abadi. Kedua, keadaan dan kehidupan dunia yang sejahtera dan damai. Tujuan pertama merupakan tujuan yang inheren dalam diri manusia, dimana tujuannya terletak diluar hidup ini. Kedua, memandang kebahagiaan hidup yang abadi.

2.      EPISTIMOLOGIS

            Dalam hubungannya dengan pendidikan, pendidikan harus universal, seragam, dimulai sejak pendidikan yang paling rendah, dan merupakan suatu kewajiban. Pada tingkat pendidikan yang paling rendah, anak akan menerima jenis pendidikan yang sama. Pembawaan dan sifat manusia sama pada semua orang. Oleh karena itulah, metode, isi, dan proses pendidikan harus seragam. Namun, manusia tetap berbeda dalam derajatnya. Dimana ia dapat mencapainya. Oleh karena itu, pada tingkatan pendidikan yang palig tinggi tidak boleh hanya ada satu jenis pendidikan, melainkan harus beraneka ragam jenis pendidikan. Inisiatif dalam pendidikan terletak pada pendidik bukan pada peserta didik. Materi atau bahan pelajaran yang baik adalah bahan pelajaran yang memberi kepuasan pada minat dan kebutuhan pada peserta didik. Namun, yang paling penting bagi pendidik adalah bagaimana memilih bahan pelajaran yang benar, bukan memberikan kepuasaan terhadap minat dan kebutuhan siswa hanyalah merupakan alat dalam mencapai tujuan pendidikan, atau merupakan strategi mengajar yang bermanfaat.

Epistimologi – Realisme : kenyataan hadir dengan sendiriya tidak tergantung pada pengetahuan dan gagasan manusia, dan kenyataan dapat diketahui oleh pikiran. Pengetahuan dapat diperoleh melalui penginderaan. Kebenaran pengetahuan dapat dibuktikan dengan memeriksa kesesuaiannya dengan fakta.


3.      AKSIOLOGI
            Dalam aliran ini menyatakan bahwa pendidikan seorang anak itu dimulai dari dunia fisik dan dunia rohani. Dari dunia fisik yaitu kita sebagai calon pendidik kita harus mencontohkan cara merawat fisik kita dengan benar agar selalu sehat dan bersih. Sedangkan dunia rohani yaitu kita harus menanamkan keagamaan/religius terhadap peserta didik , karna semua siswa itu lebih mengikuti contoh yang nyata.
            Dan dalam aliran ini pengaruh dalam dunia pendidikan adalah bahwa pendidikan itu fakta dan nyata. Artinya bahwa pendidikan itu bersifat fakta dan nyata ilmu yang diberikan guru atau sekolah terhadap anak didiknya. Karena anak memiliki sikap yang mengerti karna itu bersifat nyata bukan bersifat tidak nyata atau semu. Dan anak juga memiliki sikap yang kritis, dia akan menanyakan apakah yang diceritakan atau diinformasikan kepadanya itu benar-benar ada atau tidak nyata. Dan pendidikan juga harus bersifat universal atau seragam. Dimulai dari pendidikan kelas rendah, karena dikelas rendah ini lah anak akan diberikan bekal yang benar-benar menentukan prilaku dan tingkah laku anak kedepannya nanti. Jikalau pendidikan kelas rendah ini tidak memiliki keseragaman tidak terciptanyalah acuan dalam dunia pendidikan.
            Menurut realisme religus. Tujuan utama pendidikan mempersiapkan individu untuk dunia dan akhirat. Tujuan pendidikan adalah mendorong siswa memiliki keseimbangan intelektual yang baik, bukan semata- mata penyesuaian terhadap linkungan fisik dan sosial saja. William Mc Gucken ( Brubacher, 1950) seorang pengikut Aristoteles dan Thomas Aquina yang berakar pada metafisika dan epistimologi, membicarakan pula natural dan supernatural. Menurut Gucken, tanpa Tuhan tidak ada tujuan hidup, dan pada akhirnya tidak ada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan adalah mempersiapkan manusia untuk hidup didunia sekarang dlam arti untuk mencapai tujuan akhir yang abadi untuk hidup didunia sana.