Senin, 22 Desember 2014

filosofi pohon singkong



FILOSOFI POHON SINGKONG
          Waktu saya pulang kuliah, saya melewati kebon ketika menuju ke kost’n. Saya melihat ada pohon singkong, bambu dan pohon pisang. Saya mengerti sekarang kenapa bapak memiliki filosofi pohon pisang, karena pohon pisang keliatannya lemah tetapi dia kuat. Yang saya tangkep dari omongan bapak, itu mungkin kita boleh lemah ekonominya tetapi kita harus memiliki otak yang kuat (cerdas). Dan ketika bapak cerita ada anak kelas b bilang dia menemukan filosofi pohon bambu. Saya juga mengerti apa maksud dia, mungkin dari pohon bambu itu dia mau bilang bambu yang bengkok aja pun masih bisa dipake dengan cara dipotong-potong jadi kecil-kecil sesuai lekukannya. Menurut saya filosofi itu menceritakan tentang manusia itu ada bermacam-macam kecerdasaan, dari yang level tinggi(bambu lurus), sedang(bambu sedikit bengkok), dan rendah (bambu bengkok). Mungkin dari filosofi bambu itu dia mengatakan bahwa bambu bengkok itu masih bisa digunakan kalau kita mempunyai ide-ide. Disini dia mau mengatakan jika ada seseorang yang memiliki kecerdasaan yang rendah tetapi kita mampu mengasah skill atau keterampilan yang ada didiri kita pasti kita juga akan memiliki nilai lebih dimasyarakat dan disekitar kita. Itu yang saya tangkap dari filosofi yang bapak ceritakan.
          Dan saya juga memiliki filosofi sendiri yaitu filosofi pohon singkong, yang saya tangkep dari pohon singkong itu, pohon singkong itu semuanya berguna tidak ada yang berguna dari akar/umbinya , batang, dan daunnya. Yang saya tangkap akar/umbi kan terletak pada bagian bawah tetapi menjadi tujuan utama dari pohon singkong baru batang untuk kayu bakar dan daun untuk sayur. M enurut saya akar/umbi  itu seseorang yang kekurangan dari kalangangan bawah tetapi dia tetap menjadi tujuan utama di kalangan masyararakat jika dia memiliki kecerdasaan atau skill yang baik. Sehingga itu yang membedakan antara dirinya dengan orang lain dan memiliki nilai positif dimata masyarakat.
          Jadi, seharusnya kita manusia tidak haruslah berbangga diri dengan apa yang kita dapat sekarang ini, kekayaan yang kita nikmatin selama ini adalah kekayaan milik orang tua kita. Seharusnya kita mengasah potensi kita untuk mendapatkan kekayaan seperti orang tua kita. Dan untuk kita yang dari kalangan bawah, kita juga ga boleh merasa minder ataupun malu. Seharusnya kita terus belajar dengan tekun dan berlatih dengan penuh untuk menggali semua potensi-potensi yang ada didiri kita. Jika kita sudah memiliki potensi itu, niscaya kita tidak akan dianggap remeh atau sebelah mata dengan siapapun.
Mungkin itu yang saya dapat sampaikan kurang lebihnya mohon maaf, terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar