Senin, 04 Januari 2016

MAKALAH ATLETIK

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Atletik merupakan salah satu cabang Olah raga yang kompleks,karena memiliki  ketentuan – ketentuan dan peraturan – peraturan yang rinci dan ketat. Atletik juga merupakan cabang olahraga yang tidak membahayakan diri sendiri maupun lawan. Atletik juga sering mengadakan berbagai kejuaraan dari tingkat Kabupaten hingga Dunia. Dikabupaten, Pemda menyeleksi para Atlet yang berbakat untuk mengikuti kejuaraan berikutnya ditingkat Propinsi dan seterusnya. Olah raga atletik merupakan olah raga yang santai tapi berat,maksudnya yaitu  dalam melakukan latihan kita bisa dengan santai tapi juga serius dalam latihan.
Atletik juga bisa membangkitkan semangat kita untuk menjadi yang terbaik bagi diri kita sendiri dan bagi keluarga,masyarakat bahkan untuk Negara kita. Atletik kini bukan hanya sekedar hobi, tetapi juga Profesi. Seperti halnya dengan kegiatan yang lain. Misalnya si A   menyukai olah raga bola voli dan si A selalu di kontrak untuk bermain di tim lain. Si A tersebut bisa di katakan Hobi dengan bola voli bisa juga di katakan pemain bola voli. Disini kata pemain di artikan sebagai Profesi atau pekerjaan sebagai pemain bola voli. Begitu juga dengan Atletik,kita bukan hanya hobi berlari atau jalan jauh,tetapi hobi kita tersebut bisa di tuangkan atau dipamerkan di depan umum,misalnya dalam Event Jalan cepat 5000 meter. Dalam kenyataannya atletik di pergunakan dalam olah raga lain. Misalnya dalam olah raga sepak bola,lari dipergunakan untuk mengejar bola. Lari membutuhkan kekuatan. Atletik merupakan induknya dari berbagai cabang olah raga.
Pembelajaran atletik di sekolah-sekolah tetap berpedoman pada kurikulum pendidikan jasmani dan kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah. Namun bukan berarti bahwa semua nomor atletik yang tercantum dalam kurikulum tersebut bisa dilaksanakan. Hal tersebut terkait erat dengan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah yang bersangkutan. Banyak guru-guru pendidikan jasmani yang hanya bisa mengajarkan satu dua nomor atletik saja dalam satu tahun atau mungkin ada nomor-nomor yang tidak bisa diberikan sama sekali kepada siswanya. Secara umum ruang lingkup pembelajaran atletik di sekolah-sekolah meliputi nomor-nomor : jalan, lari, lompat dan lempar.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, dapat ditentukan rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa yang dimasksud dengan atletik ?
2.      Apa saja makna dan nilai yang terkandung dalam atletik ?
3.      Apa saja luang lingkup dalam atletik ?
4.      Apa pengertian dari lari dan jenis-jenis lari ?
5.      Apa pengertian dari lompat dan jenis-jenis lompat ?
6.      Apa pengertian dari lempar dan jenis-jenis lempar ?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui pengertian dari atletik.
2.      Mengetahui makna dan nilai yang terkandung dalam atletik.
3.      Mengetahui luang lingkup dalam atletik.
4.      Mengetahui pengertian lari dan jenis-jenisnya.
5.      Mengetahui pengertian lempar dan jenis-jenisnya.
6.      Mengetahui pengertian lompat dan jenis-jenisnya.













BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian dan Sejarah Atletik
1.      Pengertian Atletik
      Istilah atletik yang kita kenal sekarang ini berasal dari beberapa sumber antara lain bersumber dari bahasa Yunani, yaitu “athlon” yang mempunyai pengertian berlomba atau bertanding. Misalnya ada istilah pentathlon atau decathlon.  Istilah lain yang menggunakan atletik adalah athletics (bahasa Inggris), athletiek (bahasa Belanda), athletique (bahasa Perancis) atau athletik (bahasa Jerman). Istilahnya mirip sama, namun artinya berbeda dengan arti atletik di Indonesia, yang  berarti olahraga yang memperlombakan nomor-nomor: jalan, lari, lompat dan lempar. Istilah lain yang mempunyai arti sama dengan istilah atletik di Indonesia adalah “Leichtatletik” (Jerman), “Athletismo” (Spanyol), “Olahraga” (Malaysia), dan “Track and Field” (USA).
      Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atletik merupakan cabang olah raga terutama yang dilakukan diluar dan memerlukan kekuatan, ketangkasan, dan kecepatan. Terdiri atas nomor lari, jalan lompat dan lempar.

2.      Sejarah Ringkas Atletik
      Atletik yang kita kenal saat ini tergolong sebagai cabang olahraga yang paling tua di dunia. Gerak-gerak dasar yang terkandung dalam atletik sudah dilakukan sejak adanya peradaban manusia di muka bumi ini. Bahkan gerak tersebut sudah dilakukan sejak manusia dilahirkan yang secara bertahap berkembang sejalan dengan tingkat perkembangan, pertumbuhan dan kematangan biologisnya, mulai dari gerak yang sangat sederhana sampai pada gerakan yang sangat kompleks.         Pada jaman purba, ketika peradaban manusia masih sangat primitif, hukum rimba masih berlaku dimana yang kuat memakan yang lemah. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia saat itu harus bertahan dari gangguan binatang buas atau harus berburu binatang untuk dijadikan santapan hidupnya atau mencari makanan berupa umbi-umbian atau buah-buahan. Dalam upaya tersebut mereka melakukan berbagai ketangkasan seperti: memanjat pohon, melempar, melompat dan berlari. Mereka harus berjalan bermil-mil jauhnya, kadangkala harus berlari secepat-cepatnya serta terampil dalam melempar atau melompat untuk mendapatkan buruannya atau menghindar dari sergapan binatang buas. Gerakan tersebut merupakan cikal bakal gerakan atletik yang ada sekarang ini.
      Menurut seorang pujangga Yunani bernama Humeros dalam bukunya berjudul Illiad, diperkirakan kegiatan atletik sudah dilakukan tahun 1100 SM, tercatat nama-nama seperti Eurialus, Epius, Odysseus, Aias dan Argamenon. Mereka disebut sebagai jago-jago lomba berkuda, lari dan lempar lembing Odysseus saat itu disebut sebagai jago lempar cakram yang belum terkalahkan lemparannya. Sehingga gambar Odysseus dengan cakramnya diabadikan sebagai symbol atletik dan di Indonesia dipakai sebagai lambang atau logo PASI.

3.       Olympiade Kuno
      Pada tahun 776 SM bangsa Yunani menyelenggarakan pesta olahraga yang dinamakan “Olympiade Kuno” (The Ancient Olympic Games). Tujuan utama pesta olahraga ini adalah sebagai bentuk upacara pemujaan kepada dewa-dewa mereka saat itu di suatu tempat yang khusus. Nomor-nomor yang dipertandingkan dalam Olympiade kuno itu adalah lomba lari, pentathlon, pankration, gulat, tinju dan pacuan kuda. Juara pentathlon (nomor lari cepat, lompat jauh, lempar cakram, lempar lembing dan gulat) dinobatkan sebagai juara olympiade. Untuk lomba lari cepat diselenggarakan pada suatu lintasan lurus di tengah stadion. Pada zaman itu sudah dikenal tiga macam lomba lari yaitu:
Ø  Stade yaitu lari cepat pada jalur lurus sepanjang kurang lebih 185 m dilakukan di dalam stadion.
Ø  Diaulos yaitu lomba jarak menengah yang jaraknya kurang lebih dua kali stade.
Ø  Dolichos yaitu lomba lari jarak jauh yang jaraknya kurang lebih 7 sampai 24 kali stade, yang dilakukan mengelilingi stadion.
      Sampai kini kompleks bekas tempat penyelenggaraan Olympiade kuno tersebut masih terpelihara dengan baik dan orsinil, walaupun hanya berupa puing-puingnya saja. Upaya untuk merehabilitasi peninggalan sejarah itu juga sangat besar, namun lebih besar lagi upaya untuk memelihara keaslian dari peninggalan sejarah tersebut. Sehingga sampai kini tempat tersebut menjadi kebanggaan masyarakat dunia yang tak pernah sepi dari kunjungan wisata. Yang menarik dari lomba lari cepat ini adalah telah diperkenalkannya start block yang terbuat dari tembok yang berparit dan dipasang permanen di atas lapangan dan sampai kini masih ada.
      Pada gambar 1.1. di bawah ini diperlihatkan gambar dari photo sebenarnya bentuk start block lari pada lapangan di dalam stadion bekas Olympiade kuno diselenggarakan yang dibuat melebar lintasan lari. Parit dalam tembok gunanya adalah untuk menyimpan kaki penolak agar tidak terpeleset.
Gambar 1.1. (Start Block Lomba Lari pada Zaman Olympiade Kuno)

      Untuk memberangkatkan para pelari tersebut, tidak menggunakan aba-aba seperti sekarang ini berupa bunyi pistol atau kibaran bendera start, namun di depan start block itu dipasang sebuah “starting gate” yang dikenal dengan sebutan “Husplex” berfungsi untuk mencegah adanya yang mencuri start. Para pelari berada di atas statr block dalam posisi berdiri di belakang starting gate sebelum dibuka (sikap bersedia). Seorang juri atau wasit berada dibelakang para pelari dengan memegang tali yang dihubungkan dengan starting gate tersebut. Manakala tali dilepas maka secara serempak akan membuka kayu penghalang yang ada di depan pelari. Saat pintu terbuka maka secara serempak pula para pelari berlari secepatnya menuju garis akhir. Bentuk starting gate tersebut adalah seperti terlihat pada gambar 1.2 dan 1.3. bawah ini.
Gambar. 1.2. (Pintu Husplex Belum Dibuka)

Gambar. 1.3. (Pintu Husplex saat dibuka)

      Pada tahun 186 SM bentuk olahraga atletik sempat dilupakan, pada saat itu yang berkuasa adalah kekaisaran Romawi. Bangsa Romawi lebih banyak yang menyenangi “Gladiator”, yaitu olahraga yang memperlihatkan adu kejantanan, adu pedang dan pertarungan yang kadang-kadang sampai mati. Mulai tahun 1154 Masehi kegiatan olahraga atletik mengalami pasang surut. Kegiatan dan club-club atletik mulai menyebar ke luar Eropa dimulai dari Kerajaan Inggris, terus ke Amerika, New Zealand, Belgia, Afrika Selatan, Norwegia, Hungaria, Finlandia dan ke negara-negara lainnya. Pada tahun 1912 pada saat penyelenggaraan Olympiade Modern yang ke 5, yang di adakan di Stockholm Swedia, diadakan kongres dalam rangka membentuk Federasi Atletik Dunia yang kemudian lahirlah Federasi itu dengan nama IAAF (International Athletic Amateur Federation) Sedangkan di Indonesia organisasi atletik untuk pertama kalinya didirikan yaitu pada tanggal 3 September tahun 1950 di kota Semarang yang sekarang disebut PASI.


B.     Makna dan Nilai dalam Atletik
      Di kalangan para siswa, ada kesan bahwa olahraga atletik hanya merupakan seperangkat gerak monoton dan tak bervariasi. Isinya meliputi gerak lari, lempar dan lompat yang di anggap kurang menuntut keterampilan yang tinggi namun melelahkan. Unsur keriangan dan kegembiraan tidak terungkap dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Oleh karena itu tidak heran apabila pelajaran atletik dalam pendidikan jasmani kurang mendapat perhatian dibanding dengan cabang olahraga permainan seperti: sepakbola, basket atau bolavoli.
Ø  Atletik Berorientasi Bermain
      Atletik dalam konteks pendidikan jasmani selain mengandung tantangan, juga berisi unsur permainan menyertai proses belajar keterampilan atletik itu sendiri. Berlangsungnya aktivitas bermain khususnya pada anak-anak, tidak hanya terjadi pada olahraga permainan saja. Kalau kita simak secara hakiki, di dalam aktivitas bermain tersebut tidak lepas dari gerak-gerak yang ada dalam atletik seperti, jalan, lari lompat dan kadang juga berisi gerakan melempar. Oleh karena itu pembelajaran atletik dengan pendekatan bermain bukan suatu hal yang tidak logis. Atletik secara bermain dapat menggugah perhatian anak-anak dan dapat memfasilitasi semua tingkat keterampilan yang ada pada kelas yang kita ajar.
      Permainan atletik tidak berarti menghilangkan unsur keseriusan, mengabaikan unsur ketangkasan atau menghilangkan substansi pokok materi atletik. Akan tetapi permainan atletik berisikan seperangkat teknik dasar atletik berupa : jalan, lari, lompat dan lempar yang disajikan dalam bentuk permainan yang bervariasi dengan memperkaya perbendaharaan gerak dasar anak-anak.
      Kegiatannya didominasi oleh pendekatan eksplorasi dalam suasana kegembiraan dan diperkuat oleh pemenuhan dorongan berkompetisi sesuai dengan tingkat perkembangan anak, baik yang menyangkut perkembangan kognitif, emosional maupun perkembangan geraknya. Untuk bermain dalam atletik sebetulnya tidak dikenal batasan tingkat pendidikan. Yang membedakan barangkali adalah jenis permainan, berat ringannya, bobot permainan serta kemampuan pemahaman anak untuk melakukannya.
Ø  Nilai Yang Terkandung Dalam Permainan Atletik
Nilai-nilai yang terkandung tersebut seperti dikemukakan  Hans Katzenbogner/Michael Medler. (1996)., adalah:
1.      Pengembangan Dimensi Permaian Atletik
     Unsur yang terkandung dalam permainan adalah kegembiraan atau keceriaan. Tanda-tanda menuju ke arah permainan yang menggembirakan tersebut antara lain:
a)   Menempatkan diri pada situasi, gerakan dan irama.
b)   Menanamkan kegemaran berlomba atau berkompetisi dalam situasi persaingan yang sehat, penuh tantangan dan kegembiraan.
c)   Unsur kegembiraan dan kepuasan harus tercermin dalam bentuk praktek.
d)  Memberikan kesempatan untuk memamerkan kemampuan atau ketangkasan yang dikuasainya.
     Permainan atletik berujud manakala unsur kegembiraan dalam praktek merasuk ke dalam diri subyek yang dihadapi.
2.      Pengembangan Dimensi Variasi Gerakan Atletik
     Dominasi stop watch dan pita ukur dalam pelajaran atletik seringkali menyebabkan pelajaran atletik sangat membosankan, melelahkan dan kurang bervariasi. Keterbatasan sarana dan perlengkapan atletik yang dimiliki, juga menjadi penyebab guru penjas tidak bisa memberikan pengembangan gerak-gerak dasar secara optimal.       Penggunaan alat-alat bantu yang dimodifikasi berupa barang-barang bekas seperti: ban sepeda, kardus, tali, bilah bambu, bola besar atau bola-bola kecil dapat membantu menampilkan berbagai variasi gerak-gerak dasar atletik.
3.      Pengembangan Dimensi Irama Atletik
     Dalam atletik, keharmonisan gerak tubuh atau koordinasi gerak merupakan hal yang sangat dibutuhkan. Sebagai bagian dari koordinasi gerak, dibutuhkan penguasaan dan pengaturan irama gerak. Oleh karena itu guru pendidikan jasmani perlu memperhatikan pengembangan irama gerak antara lain seperti melalui pola gerak dasar dominan. Realisasinya seperti bagaimana mengatur irama langkah, frekuensi langkah, atau irama melewati rintangan, atau irama putaran dsb. Dengan demikian maka pengembangan irama dalam pembelajaran atletik tetap harus diperhatikan.
4.      Pengembangan Dimensi Kompetisi Atletik
     Dalam atletik, keharmonisan gerak tubuh atau koordinasi gerak merupakan hal yang sangat dibutuhkan. Sebagai bagian dari koordinasi gerak, dibutuhkan penguasaan dan pengaturan irama gerak. Oleh karena itu guru pendidikan jasmani perlu memperhatikan pengembangan irama gerak antara lain seperti melalui pola gerak dasar dominan. Realisasinya seperti bagaimana mengatur irama langkah, frekuensi langkah, atau irama melewati rintangan, atau irama putaran dsb. Dengan demikian maka pengembangan irama dalam pembelajaran atletik tetap harus diperhatikan.
5.      Pengembangan Pengalaman Atletik  
     Mengembangkan seluruh macam gerakan dalam atletik bukan berarti menginginkan pendangkalan, kurang sistematis, atau usaha yang tidak bertujuan. Atletik yang berorientasi pada hasil, akan memungkinkan anak menjadi bosan dan kurang kreatif dalam menerima pengalaman gerak atletik. Padahal dengan berorientasi pada pengalaman gerak yang seluas-luasnya akan memberikan kepuasan tersendiri pada diri si anak.
     Permainan atletik yang penuh dengan suasana keriangan dan kegembiraan bermain yang mempesona dengan berbagai macam variasi gerak, memungkinkan anak untuk menikmati seperti layaknya pada permainan olahraga lain. Namun substansi pokok pengajaran yaitu dimensi jalan, lari, lompat dan lempar tetap terkandung di dalamnya, sehingga unsur variasi, irama, pengalaman atletik sarta pengalaman kompetisi tetap terpelihara.

C.    Ruang Lingkup Pembelajaran Atletik.
            Pembelajaran atletik di sekolah-sekolah tetap berpedoman pada kurikulum pendidikan jasmani dan kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah. Namun bukan berarti bahwa semua nomor atletik yang tercantum dalam kurikulum tersebut bisa dilaksanakan. Hal tersebut terkait erat dengan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah yang bersangkutan. Banyak guru-guru pendidikan jasmani yang hanya bisa mengajarkan satu dua nomor atletik saja dalam satu tahun atau mungkin ada nomor-nomor yang tidak bisa diberikan sama sekali kepada siswanya. Secara umum ruang lingkup pembelajaran atletik di sekolah-sekolah meliputi nomor-nomor : jalan, lari, lompat dan lempar.
Pembagian kelompok tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Lari
A.    Pengertian Lari
Lari adalah frekuensi langkah yang dipercepat sehingga pada waktu berlari ada kecenderungan badan melayang, (M Djumijar, 2004: 13). Lari merupakan gerak mengais, badan bergerak maju karena akibat dari gaya dorong ke belakang terhadap tanah. Lari cepat merupakan lari yang dilakukan mulai dari garis star hingga garis finish dengan kecepatan maksimal, yaitu melangkah selebar dan secepat mungkin. Lari 60 meter termasuk katergori lari sprint karena merupakan lari jarak pendek, dimana  lari jarak pendek merupakan lari yang menempuh jarak 60 meter sampai 400 meter. Lari sprint merupakan jenis lari yang dilakukan dengan kecepatan maksimal, dalam melakukan lari sprint pada umumnya menggunakan star jongkok.
B.     Istilah-istilah Dalam Lari
1.       Start
Start adalah suatu persiapan awal seorang pelari akan melakukan gerakan lari. Untuk nomor jarak pendek star yang dimpakai adalah start  jongkok (Crouch Start). Tujuan utama start dalam lari jarak pendek adalah untuk mengoptimalisasikan pola lari percepatan. Aba-aba lari sprint meliputi bersedia, siaap, yaak atau door bunyi pistol.
-          Bersedia
Setelah setarter memberikan aba-aba “Bersedia”, maka pelari akan menempatkan kedua kaki dalam menyentuh blok star bagian depan dan belakang, lutut kaki belakang diletakan di tanah, terpisah selebar bahu lebih sedikit. Jari-jari tangan membentuk huruf V terbalik, dan kepala dalam keadaan datar dengan punggung, sedangkan pandangan mata menatap lurus ke bawah. 
-          Siaaap
Pada saat aba-aba “Siaaap” pelari menempatkan posisi lutut ditekan ke belakang, lutut kaki depan ada dalam posisi membentuk sudut siki-siku 900 sedangkan lutut kaki belakang membentuk sudut antara 1200- 1400. Posisi pinggang sedikit diangkat tinggi dari bahu, tubuh sedikit condong ke depan, serta bahu sedikit lebih maju ke depan dari kedua tangan.
-           Yaaa
Gerakan yang akan dilakukan pelari setelah aba-aba “Yaak/Bunyi pistol”  adalah badan diluruskan dan diangkat pada saat kedua kaki menolak/menekan keras pada start blok. Kedua tangan diangkat dari tanah bersamaan untuk kemudian diayun bergantuan. Kaki belakang mendorong kuat/singkat, dorongan kaki depan sedikit kaki belakang diayun ke depan dengan cepat sedangkan badan condong ke depan, lutut dan pinggang keduanya diluruskan penuh pada saat akhir dorongan.
2.       Teknik Lari
Menurut Yoyo Bahagia, dkk (2000 : 113) bahwa nomor-nomor perlombaan atletik kelompok umur yang disarankan untuk lari 60 m kelompok umur putra 11-12 tahun sedangkan kelompok umur putri 10-13 tahun. Unsur-unsur tersebut biaasanya ditemukan pada tingkat sekolah dasar kelas atas. Untuk setiap umur yang berbeda akan menempuh jarak yang berbeda. Hal ini menyesuaikan dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan pelari.  Dalam berlari panjang tungkai untuk setiap atlet berbeda,  semakin panjang ukuran panjang  tungkai, semakin jauh panjang langkah.
3.       Teknik Melewati Garis Finish
Sebuah perlombaan diakhiri dengan finish. Hal ini juga berlaku pada lari 60 m untuk siswa Sekolah Dasar. Untuk memenangkan sebuah perlombaan seorang pelari harus menguasai teknik start, teknik lari 60 m, dan teknik finish. Walaupun waktu antara pelari hanya beberapa detik. Pelari yang menyentuh finish pertama kali yang menang.  Menurut khomsin (2005 : 42) teknik memasuki garis finish dapat melalui tiga cara : 1) lari terus tanpa mengubah sikap, 2) dada dicondongkan kedepan dengan kedua tangan diayun kebelakang, dan 3) dada diputar dengan mengayunkan tangan ke depan sehingga bahu sebelah maju kedepan.  Dalam perlakuan atletik, seorang pelari dianggap sudah memasuki garis finish ketika salah satu bagian tubuhnya (torso) menyentuh bidang tegak finish.  

C.    Jenis-jenis Lari
a.      Lari Jarak Pendek
Lari jarak pendek atau lari sprint adalah lari dengan kecepatan penuh. Lari jarak pendek menempuh jarak 100 meter, 200 meter, dan 400 meter.
                        Untuk pelatihan cabang lari untuk permulaan ikut dalam latihan dipusat latihan adalah sebagai berikut :
-          Jalan perlahan-lahan kemudian cepat
            Mula-mula sang atilit di berikan latihan berjalan perlahan-lahan, bila ada abaaba dari pelatih “jalan agak cepat” maka si atlet harus melakukan seperti perintah pelatih. Latihan ini bertujuan untuk merangsang agar otot yang belum biasa digunakan untuk berlari agar lemas dan tidak kaku.
-          Lari pelan-pelan kemudian cepat
            Seperti halnya dengan di atas si atlet berlari pelan-pelan kemudian sang pelatih memberi aba-aba “lari agak cepat”. Latihan ini juga bertujuan untuk melatih otot-otot kaki si atlet agar lemas dalam melakukan lari. Untuk para atlit yang sudah di persiapkan untuk perlombaan yaitu latihannya sebagai berikut :
o    Latihan angkling dril
     Angkling dril yaitu latihan mata kaki untuk menyelesaikan latihan pemanasan. Di antara latihan tersebut terdapat latihan yang lain seperti : Tumit tendang pantat, Berjingkat-jingkat, Lutut angkat tinggi dan Lutut angkat tinggi kaki diluruskan. Tujuannya adalah untuk mengembangkan ketangkasan dasar lari.
o    Latihan dril-dril dasar
     Latihan tersebut menggunakan berbagai latihan dasar antara lain yaitu : Latihan kombinasi & Variasi ( lutut tinggi, tiga langkah lari, tumit menendang, tiga langkah lari, lutut tinggi dst) ; latihan kombinasi & latihan transisi (dari berjingkat-jingkat berubah menjadi ke angkat lutut tinggi, dari angkat lutut tinggi ke lari sprint, dari tumit menendang berubah ke lari sprint dan dari angkat lutut tinggi dengan kaki di luruskan ke lari sprint) ; Dril gerakan lengan (lengan memegang pinggang.melakukan percepatan 20 m, sedangkan lengan tetap diam. Lepaskan lengan kemudian lari sprint secara normal) ; latihan In & Out (melakukan percepatan lari 10 m – melayang – 10-15 m – dst.). Tujuannya adalah untuk mengembangkan kecakapan sprint dan koordinasi
§  Latihan dengan tahanan
            Dalam latihan ini atlit menggunakan suatu alat misalnya ban mobil sedan sebagai alat penahan atau alat lain yang cocok. Alat penahan tersebut oleh si atlit di bawa berlari secepat mungkin dengan jarak 20-30 m. Tujuannya adalah untuk mengembangkan phase dorongan dn kekuatan khusus.
§  Latihan mengejar
            Atlit berpasangan dua-dua, dengan menggunakan sepotong tongkat atau tali 1,5 m, berlari jogging sebaris. Pelari depan melepaskan tongkat atau tali untuk memulai pengejaran. Melakukan pada jarak 30-40 m. Tujuannya adalah untuk mengembangkan kecepatan reaksi dan percepatan lari.
§  Lari percepatan
            Pelatih membuat tanda dari jarak 0 sampai 6 m. Salah satu atlit berada di jarak 0 dan satu lagi di jarak 6 m. Dengan tanda peluit dari pelatih para atlit mempercepat lari sampai jarak 30-40 m. Tujuannya adalah untuk mengembangkan lari percepatan dan kecepatan maksimum.
§  Start melayang kemudian lari sprint
Memberi tanda pada jarak 0 hingga 20 dan 30 m. Sang atlit berlari pada jarak tersebut dengan kecepatan maksimum. Latihan ini di ulang 5 kali dalam setiap latihan. Tujuannya adalah untuk mengembangkan kecepatan maksimum.
b.      Lari Jarak Menengah dan Jarak Jauh
Lari Jarak Menengah atau disebut Middle Distance merupakan bagian dari nomor lari dengan menempuh jarak yang lebih jauh dar lari jarak pendek. Nomor lari jarak menengah meliputi jarak 800 meter, 1.500 meter, dan 3.000 meter.
Lari Jarak Jauh adalah cabang olahraga atletik yang mengutamakan ketahanan fisik saat berlari yang menempuh jarak 5.000 meter, 10.000 meter, dan 42.195 meter (marathon).
                        Untuk pelari jarak menengah dan jarak jauh, sang atlit harus mengembangkan daya tahan umum, juga daya tahan yang khusus terhadap tuntutan energi dari event masing-masing. Daya tahan umum adalah daya tahan aerobik, yang berarti sistem jantung-pernapasan dapat memenuhi semua kebutuhan oksigen untuk keperluan latihan. Daya tahan khusus adalah kombinasi dari daya tahan umum dan daya tahan an-aerobik dimana sistem jantung pernapasan dapat memenuhi kebutuhan oksigenlatihan dan perlombaan.
-          Latihan terus menerus
            Berlari relatif jarak jauh dengan kecepatan hampir konstan tanpa istirahat. Hal ini dimaksudkan untuk mengembangkan daya tahan umum.
-          Latihan interval
            Latihan interval yaitu himpinan lari latihan atau usaha dimana kecepatan, jarak dan interval istirahat di jelaskan. Dalam latihan interval sama dengan latihan lari jarak pendek.
-          Latihan intensif
            Latihan intensif antara lain sebagai berikut :
¤ 2 x 10 x 200 m ( lari dengan intensitas 60 – 80 % dengan istirahat 5 menit )
¤ 15 x 400 m ( lari dengan intensitas 60 – 80 % dengan istirahat sama dengan waktu berlari )
¤ lari 2 menit, 3 menit, 1 menit ( dengan intensitas 50-70% dengan istirahat 2 menit ).
c.       Lari Sambung (Estafet)
                        Lari sambung atau estafet adalah salah satu nomor lomba lari pada perlombaan atletik yang dilaksanakan secara bergantian atau beranting. Dalam satu regu lari sambung terdapat 4 orang pelari, yaitu pelari I, II, III, dan Iv. Pada nomor lari sambung ada kekhususan yang tidak akan dijumpai pada nomor lari yang lain, yaitu memindahkan tongkat sambil berlari cepat dari pelari ke satu kepada pelari berikutnya.
           Nomor lari sambung yang sering diperlombakan adalah nomor 4x100 meter dan nomor 4x400 meter. Dalam melakukan lari sambung bukan teknik lari saya yang perlu diperhatikan, akan tetapi pemberian dan penerimaan tongkat dizona (daerah) pergantian serta penyesuaian jarak dan kecepatan dari setiap pelari .
a.      Latihan Teknik Lari Sambung
     Suksesnya lari sambung sabgat bergantung dari kelancaran pergantian tongkat. Waktu yang dicapai akan lebih baik (lebih cepat) jika pergantian tongkat estafet berlangsung dengan baik pula. Regu bagi pelari estafet yang baik hanya akan dapat memenangkan perlomnbaan, jika mampu melakukan pergantian tongkat estafet dengan baik dan benar. Terdapat beberapacera pemberian tongkat estafet dari satu pelari ke pelari berikutnya. Secara garis besar, pergantian tongkat estafet itu ada dua macam, yaitu dengan melihat (visual) dan tanpa melihat (non-visual). Teknik-teknik tersebut antara lain
o    Latihan Teknik Penerimaan Tongkat
1.      Ketrampilan teknik penerimaan tongkat dengan cara melihat Pelari yang menerima tongkat melakukan denagn berlari sambil menolehkan kepala untuk melihat tongkat yang diberikan oleh pelari sebelumnya. Penerimaan tongkat dengan cara mewlihat biasanya dilakukan pada nomor 4x400 meter.
2.      Ketrampilan penerimaan tongkat dengan cara tanpa melihat Pelari yang menerima tongkat melakukannya dengan berlari tanpa melihat tongkat yang akan diterimanya. Ketrampilan gerak penerimaan tongkat tanpa melihat lebih sulit dara pada dengan cara melihat. Dalam pelaksanaannya antara penerima dan pemberi perlu melakukan latihan yang lebih lama untuk melatih koordinasi dan kekompakan. Cara penerimaan tongkat tanpa melihat biasanya digunakan dalam lari sambung 4x100 meter.
o    Latihan Teknik Pemberian Dan Penerimaan Tongkat Estafet
          Prinsip lari sambung adalah berusaha membawa tongkat secepat-cepatnya yang dilakukan dengan memberi dan menerima tongkat dari satu pelari kepada pelari lainnya. Agar dapat melakukan teknik tersebut,pelari harus menguasai ketrampilan gerak lari dan ketrampilan memberi serta menerima tongkat yang dibawanya. dalam perlombaan suatu regu ada yang didiskialifikasi hanya karena kurang tepatnya penerimaan dan pemberian tongkat. Maka dari itu biar kita dapat maksimal dalammelakukan lari sambung perhatikan teknik dibawah ini:
1.         Ketrampilan Teknik Pemberian Dan Penerimaan Tongkat Dari Bawah.
§  Teknik ini dilakukan dengan cara pelari membawa tongkat dengan tangan kiri.
§  Sambil berlari pelari akan memberikan tongkat tersebut dengan tangan kiri.
§  Saat akan memberi tongkat, ayunkan tongkat dari belakang ke depan melalui bawah.
§  Sementara itu, tangan penerima telah siap di belakang dengan telapak tangan menghadap ke bawah.
§  Ibu jari terbuka lebar, sementara jari-jari lainnya dirapatkan
§  Tangan penerima berada di bawah pinggang.
2.         Ketrampilan Teknik Pemberian Dan Penerimaan Tongkat Dari Atas
   Pada teknik pemberian tongkat dari atas, pemberian dan penberimaan tongkat dilakukan pada bagian tangan yang sama. Apabila pemberi melakukannya dengan tangan kiri, penerima akan melakukannya dengan tangan kiri pula. Teknik pelaksanaannya sebagai berikut:
§  Teknik ini dilakukan dengan cara mengayunkan tangan dari belakang ke depan.
§  Kemudian segera meletakkan tongkat dari atas pada telapak tangan penerima.
§  Pelari yang akan menerima tongkat mengayunkan tangannya dari depan kebelakang dengan telapak tangan menghadap ke atas.
§  Ibu jari dibuka lebar dan jari-jari tangan lainnya rapat.
§  Setelah tongkat berada di telapak tangannya, ayunkan tangan yang memegang tongkat ke depan diikuti dengan langkah lari.
b.      Daerah Pergantian Tongkat Estafet Antar Pelari
     Cara menempatkan antara pelari-pelari dalam lari estafet adalah sebagai berikut:
-            Pelari ke-1 ditempatkan di daerah start pertama dengan lintasan ditikungan.
-            Pelari ke-2 ditempatkan di daerah start kedua dengan lintasan lurus.
-            Pelari ke-3 ditempatkan di daerah start ketiga dengan lintasan ditikungan.
-            Pelari ke-4 ditempatkan di daerah start keempat dengan lintasan lurus dan
-            Berakhir di garis finish.
     Disamping itu yang harus diperhatikan oleh seorang pelari meliputi:
1.        Bidang pergantian tongkat estafet
      Ketika berada di zona penerimaan tongkat, si pemberi berteriak atau memberi aba-aba kepada si penerima bahwa ia akan segera memberikan tongkat. Setelah menerima tongkat, si penerima terus melanjutkan larinya tanpa melihat kearah tongkat. Cara ini sering disebut dengan cara non-visual (tidak melihat).
2.        Teknik menerima tongkat estafet
      Pergantian tongkat estafet cara non-visual, penerimaan menggunakan teknik menerima tongkat dengan lengan lurus, telapak tangan menghadapke atas.
3.        Latihan memberi dan menerima tongkat estafet.
Ø  Nomor lari dibagi lagi kedalam :
o   Lari lari jarak pendek meliputi : 100 m, 200 m, 400 m
o   Lari jarak menengah meliputi : 800 m dan 1500 m
o   Lari jarak jauh meliputi : 5000 m , 10.000 m, marathon
o   Lari estafet meliputi : 4 x 100 m, 4 x 400 m
o   Lari rintangan meliputi : lari gawang 100 m, 110 m, 400 m dan 3000 m halang rintang.

2.      Lompat
Lompat adalah suatu gerakan mengangkat tubuh dari suatu titik ke titik lain dengan tumpuan satu kaki dan mendarat dengan kaki. Lompat merupakan kegiatan menghentakkan badan ke udara yang diawali dengan satu kaki sebagai tumpuan.
a.      Lompat Jauh
Lompat jauh merupakan salah satu nomor lompat dari cabang olahraga atletik yang paling popular dan paling sering dilombakan dalam kompetisi kelas dunia, termasuk olimpiade.
Lompat jauh adalah suatu gerakan melompat ke depan atas dalam upaya membawa titik berat badan selama mungkin diudara (melayang di udara) yang dilakukan dengan cepat dan dengan jalan melakuka tolakan pada satu kaki untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya.
                  Untuk permulaan latihan di perlukan latihan sebagai berikut :
-          Latihan lari umum atau Dril
     Semua latihan & dril yang dijelaskan dalam latihan lari adalah berguna bagi para pelompat.
-          Latihan khusus
     Lari percepatan (semua event)-imitasi/tiruan lari ancang-ancang dengan atau tanpa imitasi bertolak, berlari engklek, tumit tendang pantat, angkat lutut tinggi dan lari percepatan
-          Latihan meloncat-loncat
     Meloncat dari suatu start berdiri, meloncat dari suatu ancang-ancang pendek, meloncat dari suatu ancang-ancang cepat dan meloncat dengan kecepatan.
-          Berjingkat-jingkat (bertolak & mendarat dengan kaki yang sama)
     Dengan berjingkat-jingkat akan menghasilkan beban yang lebih tinggi dari pada meloncat-loncat. Selalu bergantian kiri-kanan dengan tiap pengulangan. Cara berjingkat-jingkat yaitu ki-ki-ki-ka-ka-ka-ki-ki-ki-ka-ka-ka dst. Sampai jarak 20-30 m.
-          Melompati gawang
     Bertumpu dengan satu kaki untuk lompat gawang dengan satu langkah di antara gawang dan mendarat dengan kaki tumpu. Dengan kedutan mata kaki (ankle flips) melewati gawang mini. Lompat gawang dengan kedua kaki. Lompat gawang dengan bertolak atas satu kaki dengan satu langkah di antara gawang dan dengan kaki depan untuk mendarat.
-          Standing jump
     Standing jump adalah melakukan lompatan dengan dua kaki di bak pasir, dengan tangan di ayunkan ke atas.
-          HOP
     Dengan langkah 5-10 m berlari kemudian melompat dengan kaki tolak dan mendarat dengan kaki yang lain secara bergantian.
b.      Lompat Tinggi
Lompat tinggi merupakan salah satu cabang olahraga yang melakukan gerakan lompatan untuk mencapai lompatan yang setinggi-tingginya. Ukuran lapangan sama dengan lompat jauh, tinggi tiang mistar min 2.5 meter, Panjang mistar 3.15 m.
                        Dalam lompat tinggi di perlukan tubuh yang tinggi. Latihan lompat tinggi diantaranya sebagai berikut :
-          Berlari melengkung
     Atlit berlati mengikuti/membentuk angka delapan. Berlari cepat tetapi terkontrol, menambah kecepatan bila memasuki tiap belokan dengan variasi lutut tinggi atau frekwensi tinggi.
-          Berlari di tikungan dengan bertolak/bertumpu
     Pelatih membuat suatu tikungan dan titik start. Atlit menggunakan awalan 4-6langkah. Meningkatkan frekwensi langkah dalam langkah terakhir. Atlit menggunakan sasaran yang berbeda-beda dengan variasi latihan melompat dengna lutut tinggi atau berjingkat. Tujuannya adalah belajar melompat vertikal dengan awalan melengkung.
-          Latihan interval
     Latihan dasar ini sama halnya dengan latihan dasar untuk lari sprint dan lompat jauh.
Ø  Gaya dalam Lompat tinggi
-          Gaya Gunting (Scissors).
Gaya gunting bisa dikatakan Gaya Sweney, sebab pada waktu sebelumnya (yang lalu) masih digunakan gaya jongkok. Tepatnya tahun 1880, selanjutnya tahun 1896 sweny mengubahnya dari gaya jongkok menjadi gaya gunting. Diganti karena kurang ekonomis.Cara melakukan:Si pelompat mengambil awalan dari tengah. Bila pelompat pada saat akan melompat, tumpuan pakai kaki kiri (bila ayunan kaki kanan), maka ia mendarat (jatuh) dengan kaki lagi. Waktu di udara badan berputar ke kanan, mendarat dengan kaki kiri, badan menghadap kembali ke tempat awalan tadi.
-          Gaya Guling sisi (Western Roll) 
Pada gaya ini sama dengan gaya gunting, yaitu tumpuan kaki kiri jatuh kaki kiri lagi dan bila kaki kanan jatuhnyapun kaki kanan hanya beda awalan, tidak dari tengah tapi dari samping.
-          Gaya Guling (Straddle) 
Pelompat mengambil awalan dari samping antara 3, 5, 7, 9 langkah Tergantung ketinggian yang penting saat mengambil awalan langkahnya ganjil.  Menumpu pada kaki kiri atau kanan, maka ayunan kaki kiri/ kanan kedepan. Setelah kaki ayun itu melewati mistar cepat badan dibalikkan, hingga sikap badan diatas mistar telungkap. Pantat usahakan lebih tinggi dari kepala, jadi kepala nunduk. 
Pada waktu mendarat atau jatuh yang pertama kali kena adalah kaki kanan dan tangan kanan bila tumpuan menggunakan kaki kiri, lalu bergulingnya yaitu menyusur punggung tangan dan berakhir pada bahu.
c.       Lompat Jangkit
Lompat jangkit (kadang-kadang disebut sebagai hop, step dan jump) adalah suatu bentuk gerakan lompat yang merupakan rangkaian urutan gerak yang dilakukan dengan berjingkat, melangkah, dan melompat untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya. Lompat jangkit biasanya disebut lompat tiga urutan gerak yaitu gerak berjingkat, gerak melangkah, dan gerakan melompat.
Latihan lompat jangkit sama halnya dengan latihan lompat jauh dan lompat tinggi. Adapaun latihannya adalah sebagai berikut :
-          Lompatan berirama
     Si atlit menggunakan awalan 3-5 langkah dan mengunakan kombinasi lompatan dan jingkatan. Melompat secara berturut-turut secara bergantian. Misalnya : ki-ki-kaki- ki-ka-ka atau ka-ka-ki-ki-ka-ka-ki-ki. Tujuan latihan jingkat ini yaitu untuk meningkatkan ketangkasn melompat dengan menggunakan kedua kaki untuk bertolak/bertumpu.

3.      Lempar
            Banyak sekali cara latihan untuk event lempar antara lain yaitu :
a.      Lempar Lembing
Lembing adalah sebuah alat dalam salah satu nomor olahraga atletik. Lembing berbentuk seperti tombak dengan sudut tajam disalah satu ujungnya.
Melempar adalah melakukan gerakan menolak/mendorong seperti membuang sesuatu dari tangan kita.
Lempar Lembing adalah satu nomor yang terdapat dalam cabang olahraga atletik yang menggunakan alat bulat panjang yang berbentuk tombak dengan cara melempar sejauh-jauhnya.
Jadi lempar lembing dapat diartikan, melakukan gerakan untuk mendorong lepas lembing dari tangan dengan tenaga ke arah yang diinginkan.
-           Lemparan depan
     Dengan badan condong kebelakang, menambah jarak, melempar lembing kedepan dengan jarak 3-4 meter. Tujuannya untuk mempercepat lembing sepanjang suatu jalur lurus.
-          Lemparan dengan berdiri
     Si atlit berdiri terpisah 60-90 cm, kaki-kaki menunjuk kearah lemapran. Pertarik lembing dan pertahankan telapak berada di atas tinggi bahu. Angkat sedikit kaki kiri untuk mengawali gerakan, pertahankan berat badan pada kaki kanan yang di tekuk. Tujuan untuk melempar dari posisi power.
-           Lari langkah berirama kemudian lempar
     Atlit memulai dengan kaki kanan kedepan dan lembing ditarik melangkah dengan kaki kiri kekiri (seluruh telapak) dan dorong ke langkah-impuls (kaki mendarat sepat satu sesudah yang lain) dan teruskan dengan lemparan. Tujuan adalah untuk memperkenalkan langkah-impuls dan rangkaian lemparan dengan posisi power.
b.       Tolak Peluru
Olahraga tolak peluru adalah salah satu cabang olahraga atletik yang telah dipertandingkan nasional maupun internasional. Oleh karena itu, tolak peluru telah diajarkan disekolah-sekolah sebagai pokok materi dalam pelajaran pendidikan jasmani. Tolak peluru adalah cabang olahraga atletik yang bertujuan untuk menolak sebuah peluru sejauh-jauhnya.
                        Dalam latihan event tolak peluru adalah sebagai berikut :
-          Perkenalan
     Pelurusan tangan lambat-lambat atau mendorong peluru keatas dengan memainkan peluru dengan jari-jari tangan. Melempar peluru atas kepala kedepan dan lempar peluru atas kepala ke belakang. Tujuan latihan ini adalah untuk membiasakan alat dan gerak dasar melemapr peluru.
-          Tolak peluru kedepan
     Atlit berdiri dengan kaki selebar bahu, memutar dengan lutut bengkok, berhenti memutar kemudian melempar peluru. Tujuannya yaitu untuk menggunakan kaki untuk gerak percepatan dan belajar gerak mendorong lengan yang benar. Menolak peluru dari suatu langkah Atlit melangkah kedepan, memutar pinggang dan bahu terhadap arah lemapra. Kemudian dilanjutkan dnegan pelurusan kaki-kaki dan pinggang dengan gerak pilihan yang tujuannya untuk mengembangkan aktivitas kaki kanan dan penghambatan sisi kiri (kaki & tubuh).
-          Gerakan menggelincir
     Atlit bergerak menggelincir dengan mitra latihan memegang lengan yang bebas. Di teruskan menggelincir sepanjang garis, berhenti dalam posisi power (tanpa/dengan peluru dilepaskan) Tujuannya untuk mengembangkan gerak gelincir dari kaki dan rangkaian dengan lepasnya peluru.
c.       Lempar Cakram
Lempar cakram adalah salah satu nomor perlombaan lempar yang utama dalam atletik. Namun dalam perlombaan atletik indoor, nomor lempar cakram tidak diperlombakan.
Lempar cakram juga merupakan salah satu perlombaan atletik yang dapat menimbulkan bahaya dalam perlombaan atletik tingkat professional. Para atlet mampu melemparkan cakram dengan sangat jauh, tentu saja hal ini dapat menimbulkan akibat yang fatal jika cakram mengenai seseorang.
                        Si atlit harus mengenal terlebih dahulu cara pemegangan cakram. Adapun latihannya adalah sebagai berikut :
-          Perkenalan
     Atlit menggulingkan cakram ketanah ke mitra latihan kemudian melepaskannya dengan telunjuk. Merubah cara menggulingkan dengan melemparkannya keudara. Tujuan dari latihan ini adalah untuk membiasakan dengan cakram dan belajar memutarnya dengan benar.
-          Lemparan kedepan dari berdiri
     Memulai dengan kaki paralel atau dari posisi kangkang kemudian memutar kebelakang menggunakan kaki untuk percepatan kemudian berhenti memutar dan melempar. Dengan menggunakan alat yang lain seperti ring, bola-medis ringan melemparkan kesasaran. Tujuannya untuk belajar melempar lurus dari suatu gerak percepatan memutar/rotasi.
-          Lemparan berdiri menyamping
     Atlit memulainya dengan bahu kiri menuju kearah lemparan, kaki terpisah 1 ½ lebar bahu. Mengayunkan cakram kebelakang, berputar dengan poros kaki kanan. Memutar tumit kanan keluar sambil mendorong pinggang kanan kedepan, menghalangi dengan kaki kiri. Tujuannya untuk belajar menggunakan kaki kanan,aktivitas pinggang dan gerakan menghalangi.
-          Lempar berdiri dari posisi power
     Di mulai dengan punggung menghadap keaarah lempar. Mengawali lemparan tersebut dengan gerakan yang kuat dari pinggang kanan yang memutar kedepan. Mengayunkan cakram kebelakang keatas dengan telapak tangan kebawah (gerakan tidak putus). Tujuan dari latihan adalah untuk belajar aktivitas dari kaki kanan, pemutaran kaki, pinggang dan bahu.









BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Atletik merupakan induk dari segala cabang Olahraga karena terdapat gerakan yang sering di lakukan pada aktivitas sehari-hari. Dalam pelatihan atletik banyak atlet yang sudah bisa mewujudkan impiannya menjadi atlet baik dalam tingkat Kabupaten hingga Internasional. Atletik bukan hanya sekedar hobi tetapi juga merupakan profesi yang tidak hanya untuk mencari kepuasan batin saja tetapi juga masa depan kita. Semua cabang olah raga menggunakan sistem pelatihan atletik.

B.     Saran
Sebagai calon guru olahraga, dengan mengetahui analisis olahraga atletik yaitu mengetahui sejarah, nomer yang di pelombakan dan peraturan dalam atletik serta diharapkan dapat menjadi suatu pegangan dalam membelajarkan anak didiknya kelak.

















DAFTAR PUSTAKA


2 komentar: